Prof. Shinichiro Akiyama: ECCT Mengubah Peta Dunia Terapi Kanker Paru-Paru Stadium Lanjut

ECCT meningkatkan harapan hidup penderita kanker paru-paru stadium lanjut 600-800% berdampingan dengan terapi standar dibanding apabila hanya menggunakan terapi standar saja. Hal ini berdasarkan hasil studi yang dipresentasikan dalam konferensi dunia GLOBEHEAL 2026 ke-9 yang diadakan pada tanggal 12-13 Februari 2026 di Bali. Dr. Akiyama, profesor tamu bidang onkologi klinis pada McGill University Medical School, Canada melakukan penelitian klinis bersama tim C-Tech Labs Edwar Technology di Tangerang terkait penanganan kanker paru-paru dengan ECCT sebagai terapi utama maupun tambahan untuk kasus kanker paru-paru stadium 3 dan 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ECCT berefek pada peningkatan usia harapan hidup secara signifikan dibanding dengan terapi tanpa ECCT.

Prof. Shinichiro Akiyama Mempresentasikan Hasil Penelitian Klinis Bersama Tim C-Tech tentang ECCT untuk Kanker Paru-Paru pada Acara GLOBEHEAL 2026 di Bali
Prof. Shinichiro Akiyama Mempresentasikan Hasil Penelitian Klinis Bersama Tim C-Tech tentang ECCT untuk Kanker Paru-Paru pada Acara GLOBEHEAL 2026 di Bali

Menteri Kesehatan Bapak Budi Gunadi Sadikin belum lama ini menyampaikan bahwa satu orang meninggal karena kanker dalam setiap 2 menit di Indonesia. Di dunia ada satu orang meninggal karena kanker setiap 3 detik, total sebanyak 10 juta orang meninggal setiap tahun karena kanker menurut data dari Global Cancer Observatory tahun 2022. 20% lebih kematian kanker disebabkan oleh kanker paru-paru, baik laki-laki maupun perempuan di dunia maupun di Indonesia.

Jenis kanker paru-paru masih mempunyai tingkat harapan hidup yang buruk. Kanker paru-paru yang umumnya sudah ditemukan dalam kondisi stadium akhir misalnya hanya bertahan selama 4-9 bulan untuk tipe kanker paru-paru umum (non-small cell seperti adenokarsinoma dan sel skuamosa), dan 8-12 bulan untuk jenis small cell. Kanker paru-paru adalah jenis kanker yang sangat letal, tingkat harapan hidup bisa mencapai 5 tahun hanya di bawah 5%, artinya secara statistik kemungkinan 95% tak bisa bertahan lebih dari 5 tahun.

ECCT sebagai tambahan terapi meningkatkan rata-rata usia harapan hidup mencapai lebih dari 25 bulan dibanding hanya 4-12 bulan dengan terapi standar tanpa ECCT, berdasarkan data pengguna mulai tahun 2012-2014. Tingkat harapan hidup mencapai 5 tahun meningkat dari di bawah 5% menjadi lebih dari 30-40%. Prof. Akiyama dan timnya menghitung tingkat efficacy (kebermanfaatan) ECCT berdasarkan objective response rate (ORR) mencapai 83%, tidak ada adverse event (keparahan kejadian medis) lebih tinggi dari 1 berdasarkan CTCAE v5.0; tingkat efek samping sebatas hanya iritasi pada kulit yang bisa diatasi, serta bisa dipakai relatif mudah oleh pasien usia lanjut. Beberapa pasien kanker paru-paru pengguna ECCT dengan usia lanjut (di atas 60) bahkan ada yang hidup lebih dari 10 tahun dalam kondisi sehat dan terbebas dari kanker dari diagnosis awal kanker stadium akhir dan sudah terjadi penyebaran.

Prof. Shinichiro Akiyama (Kiri) Bersama Ahmad Novian, M.Si dari C-Tech Labs (Kanan) Berfoto pada Acara GLOBEHEAL 2026
Prof. Shinichiro Akiyama (Kiri) Bersama Ahmad Novian, M.Si dari C-Tech Labs (Kanan) Berfoto pada Acara GLOBEHEAL 2026

Teknologi ECCT yang dikembangkan oleh Dr. Warsito dan tim di PT. C-Tech Labs Edwar Technology, Tangerang, yang berbasis medan listrik yang sering disebut jaket ECCT (electro-capacitive cancer therapy) berprinsip mengganggu kelistrikan sel kanker yang secara karakter mempunyai polaritas listrik yang meningkat tajam saat membelah diri, sementara sel sehat relatif tidak membelah sehingga tak terpengaruh oleh medan listrik. Dari hasil PET-CT (positron emission tomography – computed tomography) scan pada kasus penderita kanker nampak bagian tubuh yang terpapar medan listrik dari ECCT terlihat bersih dari penyebaran, sementara bagian yang tak tertutup baik oleh alat kanker tetap mengalami penyebaran. Menurut Dr. Warsito jaket ECCT melindungi tubuh dari kanker seperti baju melindungi kulit dari gosong akibat paparan sinar matahari. Inovasi alat terapi kanker dalam bentuk jaket memberikan solusi terapi kanker yang bisa dijalankan secara fleksibel sambil beraktivitas tanpa mengganggu kerja atau aktivitas sehari-hari.

Menurut inventor ECCT, Dr. Warsito P. Taruno medan listrik membantu mengatasi kanker yang sudah menyebar, memberikan harapan hidup lebih lama dan kualitas hidup yang lebih baik hingga bisa membebaskan diri dari kanker yang mematikan. Kematian akibat kanker umumnya disebabkan oleh penyebaran sel yang memasuki organ lain dan menyebabkan gangguan dan kerusakan pada fungsi organ. Penyebaran atau yang sering disebut metastasis ini adalah salah satu faktor yang sulit ditangani dengan cara pengobatan konvensional dengan operasi, radiasi dan kemo, sehingga berakhir pada kematian.

Sebagai kolaborator riset klinis ECCT, Prof. Akiyama juga menjabat Direktur di Tokyo Cancer & Intractable Disease Support Center, dan juga Visiting Professor (Gastroenterologi) di Lanzhou University Second Hospital, China, serta CEO di Natural Medica Japan, Co., Ltd.. Ia adalah penulis buku teks Jepang pertama mengenai imunoterapi kanker untuk dokter, berjudul “Latest Cancer Immune Cell Therapy – From Lymphocyte Therapy to Dendritic Cell Cancer Vaccine”. Ia juga seorang Fellow of the American College of Physicians (FACP), yang merupakan sebuah penghargaan kehormatan dan pengakuan profesional bagi dokter spesialis penyakit dalam (internis) karena dedikasinya luar biasa dalam bidangnya. Ia juga penerima penghargaan Albert Nelson Marquis Lifetime Achievement Award pada tahun 2019 dari Marquis Who’s Who America.

Semenjak tahun 2020 ECCT generasi kedua telah dikembangkan dengan perbaikan yang signifikan dan waktu penggunaan yang jauh lebih singkat, memberikan efek pada usia bertahan hidup dan kualitas hidup pengguna ECCT yang meningkat cukup signifikan. Warsito menyampaikan, “Peningkatan itu bisa mencapai dua kali lipat dibanding data sebelum 2020.”

Leave a reply